450 Pantun Gaul Bahasa Daerah Maluku Utara dan Maluku

450 Pantun Gaul Bahasa Daerah Maluku Utara dan Maluku

170,000
SKU : J005
Author : Media Kalam

Quantity

Email to friend

Buku ini berisi kumpulan pantun dengan menggunakan berbagai bahasa daerah yang dikenal di wilayah Maluku Utara dan Maluku. Keragaman bahasa pantun dalam buku ini melukiskan pluralitas masyarakat Maluku dan Maluku Utara. Masing-masing-masing etnik mempunyai kekayaan, kearifan dan keunikan bahasa. Maluku dan Maluku Utara merupakan wilayah kepulauan dengan dengan beragam suku, etnis serta ras. Keragaman itu sebagai penanda adanya keragaman tutur pola kata dalam berkomunikasi.

Setiap pantun yang tersaji dalam buku ini, disertai terjemah Bahasa Indonesia serta pemaparan makna yang terkandung. Makna-makna yang digali tersebut berupa nilai-nilai keluhuran etik-moral-keagamaan dalam pesan pantun, sehingga selain mengandung estetika, dalam pantun juga tergali pesan-pesan moral dan pengetahuan.

Berikut contoh pantun yang menggunakan bahasa Laloda sebagaimana terdapat pada halaman 4:

Bole guruci ta aho to side tasakahi
Ngai moi peti madokuka
Ai nagi o,guraci bisa to fang
Duma siningga to sone deka to aho

Artinya;
Pisang emas kubawa berlayar
masak sebiji di atas peti
utang emas bisa kubayar,
utang budi membawa mati.

Kemudian, pantun ini diberi penjelasan makna oleh penulis sebagai berikut:

Diksi pada bait-baitnya terlihat bahwa ini Ini adalah pantun kiasan. “Bole guruci ta aho to side tasakahi”, pisang emas kubawa berlayar. Pada hakikatnya manuisa itu selalu berada dalam kekurangan. Dan bahkan manusia tidak akan bebas dan suci dari permasalahan dalam hidup dan kehidupan ini.

Utang berupa benda atau utang sebesar apapun bisa dibayar tapi utang berupa lisan atau perbuatan sulit dimaafkan hingga dibawa mati. Melakukan sebuah kesalahan kepada seseorang dalam bentuk fisik ataupun merupakan ungkapan lisan sebaiknya dihindari. Mencemohkan, menghina, mencaci maki adalah perbuatan atau ungkapan yang tidak wajar dalam berkehidupan. Karena semua itu tidak dapat dibayar dengan hanya ungkapan “maaf”.

Suara batin yang berteriak tentang kemuliaan jiwa, sikap rendah hati, tawadhu, dan kasih sayang dibungkam oleh jiwa yang sombong, takabur, riyah sum’ah, yang kemudian menyebabkan manusia lengah dan tertipu oleh seluruh perilaku dirinya. “Duma siningga to sone deka to aho” utang budi membawa mati. Olehnya itu, manusia harus melakukan perenungan diri. Bahwa dirinya tidak akan abadi dengan kediriannya. Tetapi kebahagiaan itu akan didapat dan digapai dari keberadaan orang lain. Kehadiran orang lain itu yang akan menjadi utang budi yang selalu terkenangkan dalam berkehidupan.

Penulis

Usman Nomay [et. al].

Cetakan

Pertama, Tahun 2020

Kertas

Bookpaper

Tebal

477 Halaman

Penerbit

Media Kalam

Dimension (L x W x H) 0 x 0 x 0
Weight 50 Gram