Napaktilas Desa Sidanga: Masjid, Religiusitas, dan Harmoni Budaya di Tanah Saruma Halmahera Selatan

Napaktilas Desa Sidanga: Masjid, Religiusitas, dan Harmoni Budaya di Tanah Saruma Halmahera Selatan

Subscribers pack
SKU : Napaktilas_Desa_Sidanga__Masjid__Religiusitas__dan_Harmoni_Budaya_di_Tanah_Saruma_Halmahera_Selatan

Quantity

Email to friend

Buku tentang sejarah dan corak budaya lokal wilayah timur Indonesia, bisa dikatakan masih belum banyak. Kehadiran buku ini, setidaknya, menambah sudut pandang baru tentang kekayaan warna lain dari corak budaya Nusantara dengan menampilkan local wisdom dari timur Indonesia, yaitu dari sebuah desa bernama Desa Sidanga yang terletak di kepulauan Maluku Utara, tepatnya di Kabupaten Halmahera Selatan. Desa ini berada di Selat Hatta, diapit deretan pulau yang indah dikelilingi gunung bukit hijau.

Ditulis oleh para putra daerahnya, buku ini merekam jejak perkembangan sejarah Desa Sidanga dalam berbagai aspeknya. Sebagaimana dituturkan oleh penulisnya, buku ini sekaligus sebagai panggilan untuk mewujudkan Desa Sidanga sebagai “Kampung Pluralisme”. Hal ini mengingat, potensi ragam budaya tumbuh di dalamnya sehingga perlu untuk terus dipupuk benih toleransi dan harmoni di tengah berbagai perbedaan tersebut.

Masyarakat daerah ini umumnya hidup dari pertanian dan hasil laut. Usaha cocok tanam adalah pekerjaan yang terlamunkan sejak dulu hingga sekarang. Laut menyimpan kekayaan yang besar dan mereka telah menggarapnya berupa berbagai jenis ikan serta hasil-hasil lainnya seperti mutiara, rumput laut, udang, siput, teripang, cumi-cumi, kerang. Teluk Hatta dan Sidanga bukan saja indah, tapi bermakna. Penduduk asli, sekaligus awal masyarakat Desa Sidanga adalah orang Tobelo Galela (Togale) dari Halmahera Utara. Sebagai cikal bakal awal datanglah seorang yang bernama Tarusi.

Warga Desa Sidanga dikenal religius dan hidup toleran. Islam masuk dan hadir secara damai, diterima secara adaptif dan akomodatif dengan budaya sebelumnya tanpa konfrontasi yang berarti. Watak damai dan harmoni ini menjadi modal bergarga dan menunjang kehidupan yang lebih baik di berbagai bidang, sejak pendidikan, agama, sosial, ekonomi hingga keamanan warga. Masjid menjadi pusat kegiatan warga, baik sebagai pusat ibadah, juga sebagai pusat perekat harmoni dan kegiatan sosial-kemasyarakatan.

Penulis

Arwin Lapane [et al.]

Cetakan

I, 2026

Ukuran

14,5 x 21 cm

Tebal

xii + 219 halaman

Penerbit

Media Kalam

ISBN

978-634-7596-02-4

Dimension (L x W x H) 0 x 0 x 0
Weight 0